bagian yang lain
“nangis itu
mudah loh kamu kapan terakhir nangis?”
“hmm…aku
lupa tepatnya yang pasti udah lama,” ucapnya lalu hening lama laki-laki itu
membenarkan letak kaca matanya lalu tersenyum tipis kearahku
Aku menghela
napas, “terus selama ini kamu mengekspresikan kesedihanmu gimana?”
Dia diam,
diam cukup lama pandangannya lurus kedepan menatap jalanan kota Jakarta.
“aku engga
pernah sedih, Ayara. Aku lupa caranya aku lupa kapan terakhir aku ngerasain
perasaan itu. Kesedihan dan kebagiaan apa itu? Perasaan seperti apa?”
Aku terdiam
sungguh manusia ini tidak tau perasaan itu?
“makanya
Ayara kita ketemu makanya sekarang aku sama kamu disini. Kamu kebalikan dari
aku, aku yang cuek, engga pedulian sama manusia lain, engga bisa nangis ketemu kamu yang sensitive, pedulian dan gampang engga enakkan. Kamu inget waktu tadi ada
pengamen yang nyamperin kita? Terus aku nanya kekamu kenapa kamu kasih pengamen
tadi uang? Terus kamu bilang ke aku kalau kamu kasian sama pengamen tadi,”
“ayara?”
panggilnya lalu dia tersenyum tipis
“aku awalnya
binggung engga ngerti kenapa kamu kasian sama pengamen tadi dan rela ngasih
uang kamu buat dia, buat aku kita manusia akan lakuin apapun untuk survive kehidupan kita, kamu aku pun ngelakuin hal yang sama untuk itu letak kasian ngeliat
pengamen dimananya? Tapi makasi loh dari kamu jadi belajar banyak buat punya
hubungan dengan manusia lain, buat berempati sama manusia lain yang awalnya aku
merasa hal itu engga penting,” dia tersenyum lalu berdiri dari tempat duduknya,
“aku pesankan taksi ya, aku ada urusan lain.”
Aku hanya
menganganguk dan menaiki taksi yang di berhentikannya,
“bapak
anterin pacar saya sampai rumah dengan selamat ya.” Ucapnya kepada pria paruh
baya yang duduk didepan, “siap mas.” Ucap bapak tersebut.
“nanti kalau
sudah sampai rumah langsung tidur tidak usah nunggu aku ya.” Ucapnya kemudian
menutup pintu taksi.

Komentar
Posting Komentar