Bandara
"Aku pergi ya?"
Aku masih diam enggan menjawabnya, sudah berapa kali aku harus melepasnya lagi, bahkan satpam di sini sudah hafal dengan kami. Ayolah bandara kau tau hatiku memintanya untuk tetap tinggal.
"Na, " dia meraih kedua tanganku, dingin, tangannya begitu dingin aku masih enggan menatapnya.
"Aku harus pergi, Na."
"Yasudah pergi sana." ketusku
Dia menuntunku untuk duduk kemudian dia berjongkok di bawah kakiku dengan tanganku yang masih di genggamannya.
"Mana mungkin aku pergi dengan tenang dengan mu seperti ini, "
Orang berlalu lalang tanpa memperdulikan kami, semua terasa sibuk dengan urusannya masing-masing, waktu terasa berhenti diantara kami.
"Kamu hanya bisa memberiku perpisahan, Za."
Air mataku jatuh seketika, aku sudah tidak kuat menahannya, bandara, perpisahan sungguh semua ini terlalu cepat seperti baru kemarin aku menjemput dengan hati senang dan sekarang aku harus mengantarnya untuk pergi dan entah kapan pulangnya.
"Perpisahan juga caraku untuk menyayangimu, Na. Maaf jika ternyata itu menyakitimu, ternyata itu membuatmu tidak bahagia."
Aku menangis seseguk-segukan, dia memelukku mencoba menenangkan, mungkin. Kemeja flanel kebanggaannya basah karena air mataku.
"Aku tidak mungkin berjanji dan memberimu harapan yang belum pasti akan terjadi, kemungkinan terburuk aku tidak akan kembali, Na. Tapi aku juga tidak menutup kemungkinan bila aku kembali. "
Ya aku tau, Reza paling takut aku berharap padanya lebih dari kemungkinan terburuk itu, dia tau aku akan semakin terluka jika berharap pada ekspektasi yang sering kubuat sendiri.
Suara boarding bandara terdengar kembali, Reza mencium keningku lama, akupun memeluknya erat.
Reza berdiri menghapus air mataku, tidak apa kali ini dia pergi dan mungkin tidak kembali. Tuhan aku mencintai pria ini, jaga dia, seperti katanya Reza bahagia jika aku bahagia akupun begitu Tuhan. Aku ikhlas dia pergi, pertemukan dia dengan apa yang selama ini dia cari Tuhan.

Komentar
Posting Komentar