Statistic of economic vs Law Department
"Kamu jadi nongkrong sama teman-temanmu?"
"Kamu mau ikut?"
"Engga, aku mau pulang aja." kataku
"Temen-temen aku engga jahat, Na."
"Aku engga bilang mereka jahat."
Dia menghela napas sebentar, "tapi kamu engga pernah mau ketemu mereka."
"Yah, aku cuma engga pengen ketemu aja, kok kamu langsung bilang gitu seakan-akan aku bilang mereka jahat." kataku sedikit kesal
"Oke fine, aku anterin kamu pulang." dia meraih tanganku, aku menepisnya.
Aku muak, "engga perlu, aku udah pesan ojek online. Aku pulang sendiri."
Mukanya terkejut, "Loh, engga bisa gitu dong, Na. Aku pokoknya harus make sure kamu sampai rumah dengan selamat."
"Engga perlu. "kataku sedikit ketus
Dia berdiri di depanku menatap kedua mataku entah keliamat apa yang akan di katakan selanjutnya aku malas, "ada apa dengan teman-temanku, Na. Mereka melakukan salah?"
Sudah kuduga dia akan membahas ini, "kalau ini dibahas akan lama, kasihan ojek online ku nanti nunggu lama."
"Na...something is happen tapi aku engga tau?" ucapnya meraih kembali tanganku
Aku tau, ini bukan salahnya sepenuhnya bukan.
Kenapa Tuhan, kenapa harus manusia ini? Aku tidak cukup berani menatap matanya. Ini buruk sekali, lidahku kelu untuk mengakatakan kalimat yang tersusun dikepala.
"Mbak Nadifa?"
"Oh iya pak." ojek online ku tiba, aku memakai helm yang diberi bapaknya.
"Jalan pak." kataku
"Sebentar pak." ucapnya "Pak, tolong pastiin pacar saya yang keras kepala ini sampai dengan selamat ya."
"Baik, mas." ucap bapaknya
Motor tua melaju membelah jalanan Jakarta, "mbaknya lagi marahan ya sama masnya tadi?" tanya bapaknya
"Oh itu pak, saya nya yang keras kepala." kataku sedikit canggung lantas tersenyum
"Biasa mbak anak muda. Tapi saya liat masnya sayang banget sama mbaknya. Khawatir mbaknya kenapa-kenapa. Saya jadi ingat waktu muda dulu." ucap bapaknya lalu tertawa
"Sekarang juga masih kelihatan muda pak." kataku menimpali ucapan bapaknya sambil tertawa
"Ah iya mbak, lihat mbaknya saya jadi ingat anak perempuan saya di rumah." ucap bapaknya
Aku hanya mengangguk tidak melanjutkan obrolan dengan bapaknya.
Sampainya dirumah aku merasa lelah sekali, membuka Spotify mendengarkan musik disana playlist malam ini adalah "him<3" ya playlist buatan dia selera musik nya tidak pernah salah.
Aku membersihkan diri mencuci muka, membuka laptop ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan dan ya aku harus menyiapkan materi untuk presentasi besok.
Randi is calling
"Sudah sampai?"
"Sudah."
"Lagi kerja? Besok ada presentasi ya?"
"Hmm.. Iya. Aku harus lanjut kerja nih."
"Oh oke, mau aku pesankan kopi?"
"Engga perlu." kataku
Dia diam cukup lama, disebrang terdengar ramai ya pasti teman-temannya.
"Aku harus balik kerja. Aku tutup ya."
"Oh Yah.. sudah harus ditutup ya? Good night sayang" suaranya terdengar kecewa
Tut. Panggilan terputus
"Good night, Randi." kataku pada angin
Bersambung...

Komentar
Posting Komentar