No Place Like Home
pensi sekolah waktu itu, 2019.
![]() |
| pra & ann |
Aku lupa terakhir kali bertemu dengannya, sepertinya sejak lulus sma, dia terlihat berbeda pantas aku sempat tidak mengenalinya. Waktu itu aku bohong, banyak bohong kepada semuanya.
"Juni, minumannya."
Dia duduk dengan tenang di depanku, matanya masih menatapku, "Juni, sudah lama sejak saat itu, yah kupikir tidak akan lagi bisa menemuimu." diakhir ucapannya dia tersenyum
"Katakan Juni, apa yang terjadi setelah hari itu." tanyanya penasaran yang jelas sekali dari wajahnya
Hancur. Tidak mungkin kukatakan yang sebenarnya, kalau setelah dia pergi aku harus menata kembali semua rencana itu.
"Tidak ada." ucapku akhirnya
Lihat, aku pembohong ulung bukan?
Memang dia berharap aku jawab apa? Aku baik-baik saja? Patah hati? Bersedih?
Dia kemudian terdiam, mengambil sesuatu dari tas ranselnya. Seperti surat yang sudah usang lalu ia memberikannya padaku. Ya itu beberapa surat dariku lima tahun yang lalu. Aku sedikit terkejut lalu kembali menormalkan mimik wajahku.
"Aku harap benar yang kamu katakan bahwa kamu baik-baik saja setelah hari itu."
Kali ini aku bingung harus menanggapinya seperti apa, bingung harus apa.
Dia kembali bersuara, "tidak ada yang benar-benar, Juni, walau kamu bohong sekalipun aku tetap percaya."
"Aku sudah membaca blog-mu dan aku juga mendengarkan pesan suaramu di Spotify, "dia menjeda kalimatnya lalu tertawa, "lucu sekali suaramu, Juni, aku tidak menyangka kamu akan memberikanku semua itu."
Aku seperti orang pencuri yang tertangkap basah, aku hanya diam karena itu yang hanya bisa kulakukan sekarang.
"Itu semua bukan buat kamu jangan kegeeran." aku masih berusaha mengelak meskipun percuma.
Dia tersenyum tangannya meraih cangkir kopi dimeja, "lucu sekali." ucapnya
"Kamu masih ada yang mau diomongin engga?" tanyaku
"Banyak. Tapi sepertinya kamu sedang terburu-buru?" ucapnya menyebalkan
"Yah, aku harus pulang. Aku sudah pesan ojek online."
Aku tersenyum sadar akan ucapanku sendiri, pulang? yah mungkin, pulang entah kemana asal pergi dari hadapan manusia ini.
Dia mengerti, "aku boleh minta nomor handphone kamu?" Dia melihat perubahan ekspresi wajahku, "begini ada banyak hal yang ingin kutanyakan, Juni, aku ingin mengabarimu setelah ini."
Melihatku yang hanya diam, dia kemudian bersuara, "Kamu ingin lebih lama disini, Juni?" ucapnya yang lagi lagi menyebalkan
Tidak ingin lagi berlama-lama melihatnya aku memberikan nomor handphone mang Ujang, ojek langganan mama. Biar tau rasa dia.
"See you latter, Juni." ucapnya melambaikan tangan hingga aku tidak lagi melihatnya.
Sial, kenapa dari sekian tempat harus ketemu dia juga disana? Aku melihat jalanan, Jakarta. Aku tidak kembali kerumah oh astaga aku tidak punya sesuatu atau seseorang yang bisa kusebut rumah.
Aku mencari airphone di tasku menyalakan musik dari Spotify, playlist yang judulnya "that's okey"
Kertas?
Surat lamaran cinta untuk Juni
Dari Banu
Jakarta is like home, is like you.
Bersambung ...


Komentar
Posting Komentar