prolog
Prolog
Satu hal yang kutahu setelah dewasa adalah bahwa sebenarnya aku tidak terlalu menyukai beberapa hal, termasuk hidup. yah, aku tidak suka hidupku, aku tidak suka tubuhku semua yang ada pada diriku. loh memangnya ada yang salah? tentu saja tidak ada. Aku hanya saja muak, aku muak dengan dunia, aku muak dengan jalanan macet pagi hari, aku muak dengan teman kantorku yang menjodohkanku dengan kerabatnya.
Satu hal yang kutahu setelah dewasa adalah arti rumah, arti punya sesuatu atau mungkin seseorang yang bisa kusebut rumah. Tempat yang membuatku merasa benar-benar pulang. Selama ini aku tidak dimanapun, tidak disini ataupun disana.
Satu hal yang kutahu setelah dewasa adalah tentang bertahan, bertahan dari diriku atau bertahan dari mimpi yang tidak terwujud.
"Mbak, silahkan duduk."
"Oh iya mas, tidak usah."
Jam pulang kantor, seperti biasa Jakarta selalu macet. Aku sedang menunggu antrean pesanan kopi, tampak dari kaca jendela yang mengarah langsung ke jalanan yang padat.
"Pulang kantor ya, mbak?"
"Iya mas." aku sering melihat laki-laki ini, pada jam yang sama hampir setiap harinya. Jam pulang kantor, dia juga mengantre mengambil minumannya, americano, biasanya itu yang selalu dia pesan.
Aku sering melihatnya, aku tidak tau jika dia sadar akan keberadaanku setiap harinya disini menunggu jalanan macet sampai lenggang walau agak malam lantas bergegas pulang.
"Jakarta tidak berubah." dia bersuara entah kepada siapa
Aku melihatnya sebentar, dia sedang menatapku lalu menatap jalanan, "Kalau tidak macet bukan Jakarta, mas." kataku menimpali ucapannya
Dia tertawa lalu tersenyum dan entah bagaimana hal itu membuatku ikut tersenyum.
"Ah benar, bisa saja nanti saya kangen sama macetnya Jakarta." ucapnya
Obrolan itu mengalir begitu saja, padahal aku bukan orang yang akan menanggapi obrolan dengan orang asing, tapi dengan dia seperti aku mengenalnya lama, seperti teman lama.
"Saya Banu."ucapnya mengulurkan tangan, aku menjabat tangannya ini terlihat seperti perkenalan formal di kantor rasanya.
Aku tau namanya sekarang, Banu yang dalam bahasa sansekerta artinya cahaya yang terang pantas saja nama itu sangat menggambarkan dirinya.
"Juni, hanya Juni."
Sangat berbeda dari namaku yang tidak memiliki arti apapun, hanya Juni.
Dia seperti sedang berpikir sesuatu, "Juni, saya suka bulan juni, bulan kelahiran saya."
Baru pertama kali ada yang menyukai namaku, bahkan aku saja tidak suka, aku malu untuk memberi tahu orang-orang namaku Juni. Dulu aku protes pada ibu mengapa memberi namaku Juni, tidak, aku tidak lahir bulan juni seperti Banu. Dan ibu tidak memberiku jawaban apapun sampai akhirnya teman-teman sd ku suka mengejek namaku.
"Americano, atas nama Banu." pesanan Banu sudah jadi, aku melihat kearahnya, "duluan saja mas." kataku pada Banu
"Yah, sudah jadi ya?" mukanya berubah sedikit murung, aku bingung memangnya ada apa?
"Ada apa mas?" tanyaku akhirnya
"Berarti harus berpisah, mbak. Saya harus pulang."
Bersambung...

Komentar
Posting Komentar