BAB 1 he is the best thing never been mine
He is the best thing never been mine - taylor swift
![]() |
| - pra |
“Masih harus ijin segala sih?” kataku
Asap mengepul di antara kami, dia samar tersenyum, “gimana
kantor, Ley?”
Aku menatap matcha latteku sebentar lalu beralih
menatapnya, “yagitu deh.”
Nah dia paling tau nih, kalau aku udah jawab gitu
tandanya aku tidak ingin membahas lagi.
“Leya.” ucapnya nada bicaranya terdengar berbeda
setidaknya aku sudah mengenalnya selama tiga tahun ini, ada hal serius yang
akan jadi obrolan kali ini.
“Kamu sudah ketemu?” tanyanya
“Ketemu apa sih?”
“Aku lihat akhir-akhir ini kamu banyak berubah. Kamu
jadi suka matcha, kamu terlihat lebih bahagia waktu engga sama aku.” ucapnya
“Apasih.” kataku mengelak
“Kalau kamu mau pergi bilang ya, Ley. Aku engga siap kalau tiba-tiba.”
Satu bulan yang lalu,
“Senang bisa bekerja sama ibu Leya.”
“Kami akan berusaha untuk tidak mengecewakan bapak.”
Kami berjabat tangan, “Saya percaya bu Leya dan
perusahaan ini tidak akan mengecewakan investornya.” ucapnya diiringin tawa.
“Terima kasih, pak.”
“Oh iya bu Leya boleh minta waktunya? Saya ingin
bicara berdua saja.”
Aku mengisyaratkan asistenku untuk pergi duluan ke
mobil, “nanti saya nyusul, Mel.”
“Baik buk, saya permisi.”
Mella, asistenku menghilangkan dibalik pintu, hening, sebelum dia kembali bersuara.
“Ah, sudah lama sekali ya, Leya?” ucapnya menatap
jalanan kota yang ramai
“Kukira kamu lupa sama saya?”
“Ayolah tidak perlu formal asistenmu tidak ada disini.”
Aku menghela napas sebentar, “Danu.”
“Selamat ya untuk Leyafe, selamat untuk ibu CEO.” ucapnya
tersenyum ya senyumnya terlihat sedikit mengejek Danu just being Danu
yang menyebalkan dua tahun kuliah sama dia membuatku hapal sikapnya, ya Danu
temanku waktu kuliah, kakak kelasku.
“Selamat juga untuk founder startup yang lagi suksesnya.”
kataku ikut memujinya dengan nada sindiran, tentu aku tidak mau kalah dengan
orang ini.
Dia tertawa kali ini lebih lepas, “Leya, aku pikir kamu
sudah dewasa setelah tiga tahun kita engga pernah ketemu.” Lagi tawanya masih belum
berhenti juga.
“Kamu disini cuma mau ngetawain aku?”
“Lebih tepatnya pengen liat muka kesel kamu, kamu pernah
ngaca ngga sih? Kamu gemesin tau waktu kesel gitu.” ucapnya diselengi tawa mengejeknya
Aku memutar mata malas, “kalau engga ada yang mau diomongin
lagi aku mau pulang.”
“Mama apa kabar?” tanyanya
Dulu sewaktu pulang kuliah Danu suka sekali mampir
kerumah ya ingin bertemu ibuku, ibuku seorang fashion desainer tapi dulu sekarang
ibu sudah pensiun.
Aku diam, “Mama baik cuman ya kalau ketemu orang, mama suka lupa.” kataku lirih
Dia terkejut, “Sejak kapan, Ley?” tanyanya
“Hmm enam bulan yang lalu."
Dia menatapku walaupun ekspresi mukanya masih menyebalkan tapi terlihat jelas khawatirnya.
Aku tersenyum mengejek, "Kamu masih ngefans sama mama?" tanyaku
"Kangen masakan mama, kangen mama bilang, Danu, nanti kalau sudah sukses jangan lupa beliin mama ikan koi sama, Danu, nanti kalau Leya engga mau nikah, nikah sama kamu aja ya."
Aku bingung harus apa aku hanya diam melihatnya, menikmati wajahnya, setiap perubahan ekspresi mukanya, ya Tuhan apa benar dia, Danu?
Kmudian dia tertawa kali ini tidak ada nada mengejek yang menyebalkan.
"Apa kamu punya super memori?" tanyaku tanpa sadar.
"Leyafe seharusnya dari awal aku tau itu kamu." ucapnya tanpa menjawab pertanyaanku.
Dia kembali bersuara, "Aku boleh kerumah?” tanyanya
Aku tersadar, tidak, seharusnya tidak, cukup, tidak perlu.
“Mama sudah jauh lebih baik sekarang.” kataku semoga saja
dia mengerti
“Rumah kamu masih yang lama?”
Oh tidak, mengapa reaksiku berlebihan? Mengapa aku takut
sekali dia datang kerumah? Apakah karena dulu aku selalu menceritakan sosoknya pada
mama? Yah dulu aku sempat mengaguminya ah mungkin lebih dari sekadar
itu, tetapi tetap saja itu sudah lewat, kan? Seharusnya aku tidak perlu
sekhawatir ini.
“Jadi boleh aku mampir kerumah ibu CEO?"
Sial!
bersambung....


Komentar
Posting Komentar