she killed herself

“Aku tidak perlu bahagia untuk melanjutkan hidup, aku akan baik-baik saja tanpa kebahagiaan. Aku tetap belajar, bekerja, melakukan hal-hal yang seharusnya aku lakukan.”

“Bukankah hampa, Na, hidup seperti itu?”

Juni menatap jari kelingkingnya yang terluka, “Kapan semuanya selesai ya?”

Perempuan tanpa rasa, Juniana Queratha. Perempuan dingin yang pandai menipu dengan senyuman, ayahnya entah berada dimana, ibunya meninggal tiga tahun lalu, Juni, hanya punya dirinya sendiri.

“Padahal sudah berkali-kali aku mendapatkan kalimat kebencian itu tetapi tetap saja rasanya menyakitkan, lebih dari itu Juni. Ternyata rasa kecewa, marah, sedihku belum hilang. Aku ingin sepertimu, Juni, tidak merasakan apa-apa.”

“Maafkan,” Juni menjeda kalimatnya, “Maafkan dirimu, maafkan kegagalanmu kemarin, dua tahun yang lalu, dan yang sebelum-sebelumnya, maafkan kenyataan yang tidak sesuai dengan yang kamu inginkan, lepaskan semuanya. Semua itu membebanimu selama ini, lihat dirimu yang menyedihkan ini, sebab kamu tidak sanggup menerima kenyataan bahwa beberapa hal memang menyebalkan. Maafkan dirimu untuk semua itu.”

Juni memeluk dirinya sendiri, ya akhirnya tidak ada yang bisa kupeluk kecuali diriku sendiri, tidak ada yang bisa kuajak bicara kecuali diriku sendiri, dan tidak ada yang mengerti selain diriku sendiri.

Yah, Juni hanya bicara pada bayangannya sendiri, berharap perasaannya lebih baik, mungkin seperti bicara pada seseorang yang mau mengertinya atau menyanyanginya, ah seperti apa ya rasanya disayangi? Tetapi bagi, Juni, selama tanganya masih utuh, Juni tidak masalah untuk memeluk dirinya sendiri, untuk menyayangi dirinya sendiri.

Kemudian Juni menatap luka di jari kelingkingnya yang kian membusuk karena infeksi, sakit, tapi sendirian lebih menyakitkan.

Komentar

Postingan Populer